SURABAYA – Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya telah melaksanakan pelatihan pembuatan ecoenzim di Balai RW 10 Kelurahan Gading, Kecamatan Tambaksari pada Sabtu, 14 Desember 2024.

Kegiatan tersebut bertujuan mengedukasi masyarakat tentang pemanfaatan limbah organik menjadi produk bermanfaat yang ramah lingkungan dan peserta yang hadir dari seluruh perangkat RW 10.

Dari hasil liputan terkait program tersebut, Ecoenzim adalah cairan fermentasi yang dibuat dari limbah organik, gula, dan air. Produk ini multifungsi, bisa digunakan sebagai pupuk organik, cairan pembersih, bahkan pengusir serangga. Proses pembuatannya sederhana dan murah, sehingga masyarakat diharapkan mampu mempraktikkannya secara mandiri.

Kegiatan ini diprakarsai oleh mahasiswa KKN NR8 khususnya sub kelompok 4, didampingi dosen pembimbing lapangan, Dia Puspitasari, S.Sosio., M.Si. Para mahasiswa berkolaborasi dengan perangkat desa dan warga setempat untuk memastikan program berjalan lancar. Warga dari berbagai kalangan hadir dan antusias mengikuti setiap sesi pelatihan.

Ketua Kelompok, Reyhan Ihsan Muhammad mengatakan bahwa ecoenzim tidak hanya membantu mengurangi limbah organik, tetapi juga mendukung upaya pelestarian lingkungan.

“Sebagai mahasiswa teknik, saya melihat ecoenzim ini sebagai solusi inovatif yang sederhana namun berdampak besar. Kita tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga mengedukasi masyarakat untuk hidup lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.” Ucapnya.

Langkah-langkahnya meliputi pencampuran bahan seperti gula, limbah organik, dan air dengan rasio tertentu, lalu dibiarkan terfermentasi selama 1-3 bulan. Setelah itu, cairan hasil fermentasi disaring dan siap digunakan.

Dari pantauan terlihat warga menunjukkan respon positif. Banyak dari mereka yang tertarik mempraktikkan ecoenzim di rumah.

“Sebelumnya saya tidak tahu kalau sisa makanan bisa diolah lagi. Sekarang saya ingin coba membuat ecoenzim untuk pupuk di taman saya.” Ujar salah satu warga.

Melihat kegiatan berjalan dengan hasil memuaskan, Reyhan selaku perwakilan kelompok berharap program ini dapat diperluas ke wilayah lain. Dengan dukungan aktif dari pemerintah dan masyarakat, program seperti ini berpotensi besar dalam menciptakan perubahan signifikan terhadap keberlanjutan lingkungan di Indonesia.

“Kita harus mendorong lebih banyak inovasi seperti ini agar kelestarian lingkungan bukan sekadar wacana, tetapi benar-benar menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat,” tutupnya. Nv/1

Loading