PALANGKA RAYA – Viral video penutupan Festival Isen Mulang memperlihatkan seorang warga Barito Utara meminta pemerintah memperbaiki jalan rusak di daerahnya. Namun aspirasi itu justru dipatahkan MC dengan nada meremehkan, hingga memicu kemarahan publik.

Ketua KPPM DUSMALA Fardoari Reketno menilai, ucapan tersebut mencerminkan rendahnya sensitivitas terhadap keresahan masyarakat DAS Barito yang selama ini bergulat dengan persoalan infrastruktur.

“Ini bukan sekadar candaan panggung, saay rakyat bicara soal jalan rusak, itu berarti ada masalah nyata yang mereka alami setiap hari, spirasi seperti itu seharusnya didengar, bukan dipatahkan di depan publik,” tegasnya.(24/5)

Fardoari mengatakan kemarahan masyarakat bukan muncul tanpa alasan. Sejumlah anggota DPRD Kalteng sebelumnya telah berulang kali menyoroti ketertinggalan pembangunan infrastruktur di DAS Barito, khususnya jalan dan jembatan yang rusak hingga menghambat aktivitas ekonomi masyarakat.

Bahkan ruas Ampah–Tamiang Layang di Barito Timur dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah, sementara aspirasi perbaikan jalan desa hingga jalan nasional terus mendominasi keluhan masyarakat dalam setiap reses DPRD.

Di sisi lain, pemerintah juga diketahui tengah mendorong pembangunan strategis di kawasan Barito melalui skema pembangunan berbasis zona, peningkatan konektivitas wilayah, pengendalian banjir, hingga penguatan sektor pertanian, dan ekonomi masyarakat.

Namun menurut Fardoari, pembangunan tidak boleh hanya berhenti pada konsep dan seremonial, sementara suara masyarakat di lapangan justru dianggap angin lalu.

“Jangan alergi terhadap kritik rakyat. Yang disampaikan warga itu bukan kebencian tetapi kenyataan yang di hadapi. Kalau jalan rusak masih menjadi keluhan utama masyarakat DAS Barito sampai hari ini, maka itu artinya ada pekerjaan besar yang belum selesai,” katanya.

Ia juga menilai pernyataan MC telah memicu kegaduhan dan melukai perasaan masyarakat Barito yang merasa aspirasinya disepelekan di ruang publik.

“Kalau ucapan itu sudah menimbulkan kemarahan publik, maka langkah paling dewasa adalah meminta maaf secara terbuka. Tidak ada yang jatuh martabatnya karena meminta maaf kepada rakyat yang tersinggung,” ujarnya.

Fardoari menegaskan kritik masyarakat tidak boleh dianggap sebagai ancaman, Kritik adalah tanda bahwa rakyat masih peduli terhadap daerahnya.

“Yang berbahaya bukan rakyat yang mengkritik, tetapi ketika rakyat sudah lelah berbicara karena merasa suaranya tidak pernah dihargai,” tutupnya. Nv//001

Loading