TAMIANG LAYANG – Kalimantan Tengah tidak henti-hentinya mempertontonkan kearifan lokal yang memanjakan mata dan menyentuh batin. Alamnya luas, budayanya kaya, dan menyalanya semangat masyarakat untuk menjaga warisan budaya. Salah satu warisan budaya yang penulis coba bahas adalah “Festival Nariuk”, yang digelar di aliran sungai Surau, Desa Pulau Patai, Kecamatan Dusun Timur, Kabupaten Barito Timur. Sebuah festival yang bukan hanya soal menangkap ikan, tetapi juga menangkap kembali jati diri dsn menjaga kearifan lokal sebagai indetitas diri masyarakat Dayak Ma’anyan.
Kegiatan Nariuk telah dilakukan sejak lama, jauh sebelum istilah “Festival Nariuk” diperkenalkan. Kegiatan ini lahir dari kebutuhan hidup, dan tumbuh menjadi tradisi yang sarat nilai.
Dahulu, ketika musim kemarau dan air sedang pasang, para lelaki turun ke sungai membawa Tariuk, sejenis tombak panjang yang menjadi alat dalam berburu ikan. Nariuk bukan sekadar aktivitas mencari makan, tetapi juga sebagai ajang uji keterampilan, kesabaran, dan keharmonisan dengan alam.

Tariuk terbuat dari besi tajam sepanjang 6 hingga 8 senti meter dan di sambung dengan kayu ulin atau bambu sepanjang 4 hingga 6 meter. Mata besi itu dipasang sedemikian rupa agar kuat menembus tubuh ikan. Karna Tariuk memiliki ujung yang polos maka sangat sulit untuk mengangkat ikan, biasanya Tariuk juga di temani oleh alat yang serupa bernama “Sampapak” tetapi bentuknya berbeda, Samapapak berbentuk trisula bermata dua yang memiliki irang/duri di ujungnya, fungsinya untuk membantu Tariuk ketika berhasil mengenai ikan.
Saat praktek Nariuk berlangsung, peserta akan turun langsung ke sungai, membawa tariuk dan merendam tubuh hingga sepinggang dengan menggunakan pelampung.
Dalam prakteknya Tariuk di tombak secepat kilat ke bawah air hingga sampai ke dasar sambil membaca gerakan ikan berlahan-lanan mengikuti arus, ketika Tariuk mengenai ikan, Tariuk akan bergetar dan berbunyi kecil, kemudian Sampapak bertugas untuk mengangkat ikan. Tidak ada mesin, tidak ada jaring besar, tidak ada racun ikan, semua mengandalkan kecepatan, ketepatan, kepekaan tubuh dan intuisi.

Baru pada tahun 2019, Nariuk dikemas dalam bentuk festival atau perlombaan untuk pertama kalinya. Festival ini digagas oleh pemerintah desa bersama tokoh masyarakat sebagai upaya untuk mempromosikan desa wisata Pulau Patai serta melestarikan kearifan lokal, mensosialisasikan dalam menjaga kelestarian sungai sekaligus memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda. Festival Tariuk kemudian menjadi agenda tahunan pemerintah daerah Kabupaten Barito Timur dan menjadi kabupaten pertama yang mengemas budaya Nariuk menjadi olahraga tradisional yang kemudian di perlombakan setiap tahunnya di desa Pulau Patai.
Berikut runtutuan kegiatan Festival Nariuk yang sudah di laksanakan :
Festival Nariuk I
Diadakan pada tahun 2019 dengan total peserta sebanyak 300 orang.
Festival Nariuk II
Setelah tidak di laksanakan selama 2 tahun akibat pendemi Covid 19, Festival Nariuk kembali iadakan pada 08 Agustus 2022 dengan total peserta sebanyak 100 orang.
Festival Nariuk III
Diadakan pada 2 Juli 2023 dengan total peserta sebanyak 190 orang.
Festival Nariuk IV
Diadakan pada 18 Agustus 2024 dengan total peserta sebanyak 200 orang.
Festival Nariuk V
Diadakan pada 26 Juli 2025 dengan total peserta sebanyak 291 orang.
Ada 3 katagori yang di perlombakan dalam Festival Nariuk, yaitu; Katagori tercepat, ketagori terberat, dan ketagori terbanyak. Festival Nariuk kemudian masuk dalam ketagori olahraga tradisional oleh pemerintah Barito Timur.
Festival Nariuk ini di minati oleh banyak masyarakat, tidak hanya pria dewasa, melainkan anak-anak, remaja, dan kalangan wanita pun ikut terjun ke sungai mengikuti perlombaan. hal ini bisa di lihat dari partisipasi masyarakat ketika Festival ini di laksanakan, para peserta Festival pun di ikuti oleh hampir semua desa di Barito Timur, dan di tonton oleh ratusan masyarakat dari berbagai daerah.
Festival Nariuk bukan sekadar perlombaan. Ia menyimpan filosofi tentang keseimbangan, kesabaran, dan kebersamaan. Ada nostalgia, kebahagiaan dan sorak-sorai daei masyarakat yang menyaksikan cara sungai menghidupi mahkluk hidup di sekitarnya. Nariuk mengajarkan bahwa manusia tidak melawan alam, melainkan bersinergi dengannya. Dalam Nariuk hasil tidak hanya ditentukan oleh kekuatan, tetapi oleh kelincahan, ketepatan dan kesempatan. Nariuk adalah cara masyarakat Dayak Ma’anyan merayakan keterhubungan serta keselarasannya dengan sesama dan dengan sungai sebagai sumber kehidupan.

Di tengah derasnya arus globalisasi, generasi muda memiliki peran penting dalam mewarisi dan melestarikan budaya lokal. Festival Nariuk menjadi panggung edukatif dan inspiratif, tempat di mana para generasi muda belajar bahwa budaya bukan beban masa lalu, tetapi kekayaan masa depan.
Melawati Festival Nariuk generasi muda belajar bagaimana mencari ikan tanpa merusak sungai, tidak ada mesin, tidak ada racun ikan, tetapi mampu menangkap ikan dengan sangat efektif dan efisien.
Melalui keterlibatan generasi muda baik sebagai peserta, panitia, atau penonton agar tumbuh rasa memiliki dan cinta terhadap kearifan lokal sebagai indetitas diri.
Peran KPPM DUSMALA Kota Palangka Raya.
Dalam proses pelestarian kearifan lokal ini, Kerukunan Pemuda, Pelajar, dan Mahasiswa Dusun, Ma’anyan, dan Lawangan (KPPM DUSMALA) Kota Palangka Raya memegang peran strategis. Sebagai organisasi pemuda berbasis kedaerahan, KPPM DUSMALA tidak hanya menjadi ruang berproses bagi pemuda DUSMALA yang tinggal di Kota Palangka Raya, tetapi juga menjadi tembok pertahanan dalam menjaga dan melestarikan kearifan lokal.
Melalui partisipasi langsung dalam acara adat masyarakat di daerah salah satunya seperti Festival Nariuk ini, KPPM DUSMALA Kota Palangka Raya memiliki tugas yaitu mengamati, mendokumentasikan, bahkan menuliskan proses dalam setiap kegiatan, hal ini bertujuan untuk merawat ingatan kolektif generasi muda agar adat budaya DUSMALA tidak tergerus oleh jaman.
Harapannya organisasi ini membuktikan bahwa pemuda Dayak tidak hanya bangga akan budayanya, tetapi juga mampu membangun sumber daya manusia yang berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal sebagai indetitas diri.
Festival Nariuk tidak hanya perayaan budaya, tetapi lebih dari itu, moment ini adalah pengingat bahwa tradisi hidup akan terus berlanjut selama masih ada yang percaya, di tepian Sungai-sungsi, tombak-tombak terus bergerak, bukan untuk melukai, tetapi untuk menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan apa yang harus kita pertahankan.
Dan selama ada pemuda yang tidak lupa akan adat budayanya, selama ada Tariuk yang terus di tombak di sungai-sungai maka kearifan lokal seperti Nariuk tidak akan punah.
Penulis bersyukur bisa berkesempatan hadir dalam Festival Nariuk V dan memperhatikan bagaimana prosesi Nariuk ini di praktekan dan menjadi bahan penulis untuk membuat tulisan ini, tulisan ini bertujuan untuk mendokumentasikan dan mengabadikan moment Festival Nariuk, penulis sadar ada banyak kekurangan dari tulisan ini, penulis berharap dari tulisan sederhana ini paling tidak bisa menjadi pengingat untuk para pembaca tentang kearifan lokal yang harus kita jaga dan lestarikan bersama-sama. Nv//001
Oleh : Yosafat Menteng. E
(KPPM DUSMALA Kota Palangka Raya)
![]()
