PALANGKA RAYA-Badan Eksekutif Mahasiswa Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (BEM IAHN-TP) Palangka Raya menyampaikan kritik keras atas tindakan represif aparat kepolisian dalam menangani aksi demonstrasi di Jakarta yang mengakibatkan meninggalnya saudara Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online.

Demonstrasi tersebut lahir dari keresahan rakyat terhadap kebijakan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan sejumlah persoalan lain yang dinilai tidak berpihak pada kepentingan masyarakat. Penyampaian aspirasi di ruang publik adalah hak konstitusional rakyat yang seharusnya dijamin oleh negara.

Namun, insiden tragis yang merenggut nyawa justru memperlihatkan kegagalan aparat dalam mengayomi masyarakat. Tindakan represif tidak hanya melukai fisik rakyat, tetapi juga meruntuhkan kepercayaan publik terhadap institusi negara. “Pendekatan kekerasan dalam menangani massa aksi merupakan bentuk nyata dari kerapuhan demokrasi, dan ini tidak bisa lagi ditoleransi,” ujar Presiden Mahasiswa IAHN-TP Palangka Raya.

BEM IAHN-TP Palangka Raya menegaskan bahwa kasus ini harus diusut secara transparan dan akuntabel, serta aparat yang terlibat wajib dimintai pertanggungjawaban. Negara tidak boleh membiarkan kekerasan menjadi alat untuk membungkam suara rakyat.

Tragedi ini menjadi pengingat bahwa demokrasi sejati hanya dapat tumbuh melalui dialog dan penghormatan terhadap hak-hak warga negara, bukan dengan intimidasi maupun represifitas. BEM IAHN-TP Palangka Raya berdiri bersama rakyat, menolak segala bentuk kekerasan aparat, dan berkomitmen untuk mengawal tegaknya keadilan serta kebebasan berdemokrasi di Indonesia. //

Loading