PALANGKA RAYA – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Pasukan Perajah Motanoi Indonesia Kota Palangka Raya periode 2026–2031 resmi dikukuhkan melalui rangkaian ritual adat di Markas Besar Betang Main, Jalan Sisingamangaraja VI, Kompleks Betang Tilung, Palangka Raya, Kamis, 16 Juli 2026. Prosesi yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB hingga selesai itu mengedepankan nilai-nilai adat Dayak sebagai bagian dari identitas dan legitimasi organisasi.

Rangkaian kegiatan diawali dengan penyambutan tamu kehormatan melalui prosesi Pantan Lawai (Lawang Sakepeng), yang menjadi simbol penghormatan sekaligus pembuka jalan menuju lokasi pelaksanaan kegiatan. Setelah itu, Ketua Umum Pasukan Perajah Motanoi Indonesia menjalani prosesi menginjak telur dan batu sebagai bagian dari ritual adat.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan dialog adat sebelum kain penghalang dibuka. Selanjutnya, jajaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP) mengikuti ritual meminum baram dari tanduk yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum Perajah Motanoi Indonesia, Sulpius Serinus Ruhat Bondung. Ritual tersebut dimaknai sebagai simbol persaudaraan, kebersamaan, dan komitmen antaranggota. Para tamu undangan juga mengikuti prosesi pengolesan pupur basah sebagai bagian dari rangkaian adat.
Puncak kegiatan ditandai dengan pengucapan Sumpah Pasukan Perajah Motanoi Indonesia di hadapan sangkunya masing-masing, yakni piring yang berisi beras beserta perlengkapan dan syarat ritual sebagai simbol kesiapan mengemban amanah organisasi. Sumpah dipimpin langsung oleh Ketua Umum di hadapan seluruh peserta dan tamu undangan. Setelah prosesi tersebut, kepengurusan DPW Pasukan Perajah Motanoi Indonesia Kota Palangka Raya periode 2026–2031 resmi dinyatakan sah melalui ritual pengukuhan adat.
Dalam kepengurusan yang baru, Heriyanto Tarung dipercaya sebagai Ketua DPW Pasukan Perajah Motanoi Indonesia Kota Palangka Raya periode 2026–2031, didampingi Coang B. Ringkan sebagai sekretaris.
Ketua Umum Perajah Motanoi Indonesia, Sulpius Serinus Ruhat Bondung, menegaskan bahwa ritual pengukuhan tidak hanya menjadi seremoni organisasi, tetapi juga mengandung makna spiritual dan moral yang harus dijaga oleh seluruh pengurus.
“Pengukuhan ini bukan hanya memberikan amanah kepengurusan, tetapi juga mengikat seluruh pengurus dalam sebuah sumpah kehormatan untuk menjaga marwah organisasi, menjunjung tinggi adat, serta mengabdi kepada masyarakat, bangsa dan negara dengan penuh tanggung jawab. Pasukan Perajah Motanoi Indonesia harus menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai budaya, persatuan, dan kehormatan masyarakat Dayak.”
Ia juga mengingatkan bahwa kepengurusan yang telah dikukuhkan memikul tanggung jawab untuk menjalankan organisasi secara profesional, menjaga solidaritas, dan menjadi teladan di tengah masyarakat.
“Saya berharap seluruh pengurus yang telah melalui prosesi ritual hari ini mampu menjaga kekompakan, memperkuat persaudaraan, dan menjalankan organisasi sesuai dengan nilai adat yang menjadi dasar berdirinya Perajah Motanoi Indonesia.”
Sementara itu, Ketua DPW Pasukan Perajah Motanoi Indonesia Kota Palangka Raya periode 2026–2031, Heriyanto Tarung, menyampaikan bahwa amanah yang diterimanya menjadi tanggung jawab besar yang harus dijalankan dengan penuh komitmen.
“Kami menerima amanah ini dengan penuh rasa hormat. Prosesi ritual yang kami jalani hari ini menjadi pengingat bahwa jabatan bukanlah kehormatan semata, tetapi tanggung jawab besar untuk menjaga organisasi, adat, dan kepercayaan seluruh anggota.”
Menurut Heriyanto, kepengurusan baru akan memprioritaskan penguatan organisasi hingga ke tingkat akar rumput, meningkatkan solidaritas anggota, serta melestarikan budaya Dayak melalui berbagai kegiatan sosial, kebudayaan, dan pembinaan generasi muda.
“Kami ingin Perajah Motanoi Indonesia hadir sebagai organisasi yang mampu mempererat persaudaraan, melestarikan budaya leluhur, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kami siap bersinergi dengan pemerintah, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen daerah untuk bersama-sama membangun Kota Palangka Raya.”
Pengukuhan tersebut dihadiri jajaran Dewan Pimpinan Pusat Perajah Motanoi Indonesia, tokoh adat, tokoh masyarakat, anggota Pasukan Perajah Motanoi Indonesia, serta tamu undangan yang mengikuti seluruh rangkaian ritual hingga penutupan acara.
Melalui pengukuhan kepengurusan ini, Pasukan Perajah Motanoi Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga kelestarian adat dan budaya Dayak, memperkuat soliditas organisasi, serta meningkatkan kontribusi kepada masyarakat dengan tetap berlandaskan nilai-nilai kearifan lokal.
![]()
