PALANGKA RAYA —Upaya percepatan penurunan stunting di Kecamatan Banama Tingang, Kabupaten Pulang Pisau, mulai menunjukkan hasil positif. Berdasarkan data rekap status gizi balita per kecamatan, prevalensi stunting Banama Tingang pada Juli 2025 tercatat sebesar 9,15 persen. Memasuki Januari 2026, angka tersebut turun menjadi 7,33 persen.
Penurunan sebesar 1,82 persen dalam kurun sekitar enam bulan itu menjadi indikator bahwa intervensi yang dilakukan pemerintah daerah bersama berbagai pihak mulai berdampak nyata di lapangan. Dari total 764 balita yang diukur pada Januari 2026, tercatat 56 balita masuk kategori stunting.

Meski demikian, tantangan penanganan stunting di tingkat desa masih cukup kompleks. Data Puskesmas Bawan menunjukkan beberapa desa masih memiliki prevalensi di atas rata-rata kecamatan. Desa Tambak tercatat tertinggi dengan angka 22,86 persen, disusul Desa Manen Kaleka sebesar 12,50 persen dan Desa Hurung 10,26 persen. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya intervensi yang lebih spesifik berbasis wilayah dan keluarga berisiko.
Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau sendiri terus memperkuat komitmen percepatan penurunan stunting melalui penguatan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), layanan Posyandu, pemantauan tumbuh kembang balita, pendampingan ibu hamil, hingga pemberian makanan tambahan bagi anak berisiko stunting. Pemerintah daerah juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar target penurunan stunting dapat tercapai secara berkelanjutan.
Di tengah upaya tersebut, dukungan dunia usaha melalui program CSR turut menjadi penguat program pemerintah. Salah satunya dilakukan oleh CAA Group melalui anak perusahaan PT Citra Agro Abadi (CTAA) dan PT Agrindo Green Lestari (AGL) yang aktif mendukung berbagai program sosial kemasyarakatan di wilayah Pulang Pisau.
Komitmen CAA Group terlihat melalui berbagai dukungan terhadap program pemerintah daerah, mulai dari ketahanan pangan, Pendidikan, Perbaikan Infrastruktur (Jalan, jembatan dan Parit di Desa), pemberdayaan masyarakat, hingga kegiatan sosial di wilayah sekitar operasional perusahaan.
Dalam konteks penanganan stunting, keberadaan program CSR perusahaan dinilai strategis karena membantu memperkuat jangkauan intervensi pemerintah di tingkat desa. Dukungan terhadap kegiatan Posyandu, edukasi kesehatan masyarakat, penguatan ketahanan pangan keluarga, hingga program sosial kemasyarakatan menjadi bagian dari sinergi yang dibangun bersama pemerintah daerah dan tenaga kesehatan.
Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau sebelumnya juga telah menegaskan pentingnya integrasi program CSR perusahaan untuk membantu menekan angka stunting dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Jika dibandingkan dengan sejumlah kecamatan lain di Pulang Pisau, capaian Banama Tingang juga menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Pada Januari 2026, prevalensi stunting Banama Tingang berada di angka 7,33 persen, lebih rendah dibanding Kahayan Hilir sebesar 20,92 persen, Sebangau 14,95 persen, dan Jabiren Raya yang mencapai 28,57 persen.
Capaian tersebut memperlihatkan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan dunia usaha mulai menunjukkan arah positif dalam mempercepat pembangunan kualitas sumber daya manusia di wilayah pedesaan.
Pada akhirnya, stunting tidak hanya persoalan kesehatan, tetapi juga menyangkut masa depan generasi daerah. Karena itu sinergi berkelanjutan antara pemerintah dan dunia usaha seperti yang dilakukan CAA Group menjadi bagian penting dalam mendukung percepatan pembangunan manusia dan peningkatan kualitas hidup masyarakat di Kabupaten Pulang Pisau. Nv//001
![]()
