SERANG – Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto kembali menunjukkan komitmennya bahwa negara tidak boleh jauh dari rakyat.

Dalam momen akad massal 50.030 unit rumah subsidi KPR Sejahtera FLPP di Perumahan Pondok Banten Indah, Kota Serang, Prabowo menyapa langsung para debitur dari 33 provinsi melalui konferensi video.

Tidak hanya simbolis, Prabowo mendengar langsung suara rakyat kecil: dari pemilik warung di NTB hingga penjual makanan di Kalimantan Barat.

Menteri Maruarar Sirait membuktikan, bahwa visi Presiden Prabowo Subianto dijalankan secara cepat, efektif, dan menyentuh langsung kehidupan rakyat.

Program ini menyasar “masyarakat berpenghasilan rendah (MBR)”, termasuk guru honorer, pekerja informal, tukang cukur, asisten rumah tangga, dan pengemudi ojek daring.

Mereka yang selama ini sulit mengakses rumah karena keterbatasan ekonomi kini diberi harapan nyata, sesuai “ASTA CITA PRESIDEN”

Dalam proses akad massal ini seorang pemuda yang hebat bernama Fauzi asal NTB usia 23 sudah punya rumah,” seorang warga NTB yang kini bangga memiliki hunian sendiri dari program FLPP. Sapaan yang terdengar sederhana itu mencerminkan harapan besar: generasi muda Indonesia bisa mandiri, memiliki rumah, dan hidup lebih baik.

Dialog juga dilanjutkan dengan warga dari Papua, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan semuanya menyampaikan bahwa rumah mereka layak, lingkungan bersih, air dan listrik lancar.

Dari pedagang kaki lima, tukang cukur, hingga nelayan keramba, program ini telah menjadi jawaban nyata atas impian lama yang nyaris tak terjangkau.

Cerita serupa datang dari Ahmad Kurniadi, tukang cukur asal Kalodran, Serang, yang selama ini tinggal di rumah orang tuanya. Melalui program FLPP dengan angsuran ringan dan booking fee terjangkau, ia akhirnya bisa mewujudkan keinginannya untuk hidup mandiri.

“Selama ini saya numpang, sekarang saya bisa punya rumah sendiri. Rasanya luar biasa,” ucap Ahmad penuh haru.

Di tengah tantangan ekonomi, pembangunan 50.030 unit rumah subsidi ini bukan hanya proyek infrastruktur, tetapi simbol keberpihakan negara kepada masyarakat akar rumput.

Melalui skema FLPP dan berbagai insentif seperti PPN 0%, Gratis BPHTB dan PBG, pemerintah membuktikan bahwa rumah layak bukan sekadar mimpi, tapi hak rakyat yang bisa diwujudkan.

Apa makna dari semua ini? Program KPR Sejahtera FLPP bukan sekadar pembangunan rumah.

Ini adalah langkah konkret melunakkan ketimpangan, mengurangi backlog perumahan, dan membuktikan bahwa negara peduli kepada tukang cukur, penjual gorengan, buruh bangunan, guru honorer, hingga pegawai kontrak. Bahwa kepemilikan rumah bukan hanya milik elite, tapi juga hak rakyat jelata.

Presiden menutup dialog dengan satu pesan yang kuat: “Yang penting saudara semua dalam keadaan baik, dan rumah yang saudara terima dalam keadaan baik.”

Sederhana, tapi tegas. Prabowo tidak hanya menyerahkan kunci rumah tapi juga menanamkan kembali kepercayaan rakyat bahwa negara masih bisa dipercaya.

Kementerian PKP mencatat, hingga 19 Desember 2025, penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) telah mencapai 263.017 unit rumah subsidi dengan nilai Rp32,67 triliun.

Penyaluran tersebut melibatkan 39 bank penyalur, 22 asosiasi pengembang perumahan, serta didukung oleh 7.998 pengembang. Rumah subsidi ini tersebar di 12.981 kawasan perumahan pada 33 provinsi dan 401 kabupaten/kota di Indonesia (Sumber: https://pkp.go..id )

Ini bukan soal politik. Ini soal kemanusiaan. Ketika rumah menjadi simbol harga diri, maka memberi rumah bagi rakyat adalah langkah negara memulihkan martabat bangsanya. Inilah wajah negara yang hadir, mendengar, dan bertindak.