OPINI – Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan Nasional sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah berjuang demi kemerdekaan dan martabat bangsa.
Namun bagi kita, kader-kader GMKI, peringatan ini bukan hanya seremoni sejarah tetapi refleksi iman dan panggilan pelayanan untuk melanjutkan perjuangan dengan cara yang relevan di masa kini.
Pahlawan dalam Pandangan Iman Kristen
Alkitab menegaskan bahwa kepahlawanan sejati berakar pada kasih dan pengorbanan. Dalam Yohanes 15:13 tertulis:
“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”
Kepahlawanan dalam terang iman bukan sekadar keberanian menghadapi musuh, tetapi kesediaan untuk berdiri bagi kebenaran dan membela kehidupan, terutama bagi mereka yang tertindas. Kasih yang rela berkorban menjadi dasar perjuangan seorang Kristen sejati.
Dr. Johanes Leimena sebagai tokoh Kristen yang menggambarkan Kepemimpinan Kristen Sejati
Dr. Johanes Leimena merupan seorang dokter, negarawan, dan Pahlawan Nasional yang menjadi teladan bagaimana iman dapat terwujud dalam pengabdian profesional. Sebagai Menteri Kesehatan terlama, ia memperjuangkan hak kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa membeda-bedakan.
Johannes Leimena mengajarkan kepada kita bahwa pelayanan kepada sesama adalah bentuk ibadah yang luhur, dan bahwa panggilan iman harus diwujudkan dalam kerja nyata bagi kemanusiaan. Bahkan Presiden Soekarno mengatakan bahwa beliau adalah Menteri paling jujur yang pernah iya temui, dan detik-detik hembusan nafas terakhir Dr. Johannes Leimena tidak mewarisi apapun selain legecy bahwa iya adalah tokoh Pemimpin Kristen sejati.
Meneladani kepahlawan Tjilik Riwut sebagai simbol kebangkitan dan perjuangan masyarakat Dayak
Dari tanah Bumi Tambun Bungai, kita belajar dari sosok bue Tjilik Riwut, Pahlawan Nasional Pelopor Pembangunan Kalimantan Tengah. Ia berjuang untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat Dayak, mempersatukan suku bangsa Dayak yang di wakilkan oleh 118 sub suku Dayak di Yogyakarta untuk mendeklerasikan sumpah setia bangsa Dayak kepada bangsa dan negara. Dalam kedeladanan beliau berhasil membangun Kalimantan Tengah dengan nilai-nilai lokal yang luhur.
Bue Tjilik Riwut mengajarkan kepada kita bahwa cinta tanah air bukan sekadar slogan, melainkan perjuangan konkret untuk melindungi manusia dan tanah tempat kita berpijak.
Christian Mandolin Simbar sebagai simbol perlawanan masyarakat Dayak terhadap penguasa dan oligarki
Demikian pula bue Christian Mandolin Simbar, tokoh yang mungkin asing di dengar oleh sejumlah besar masyarakat khususnya masyarakat Kalimantan Tengah, sosok beliau dan kepemimpinannya yang tangguh dan konsisten dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat Dayak sebagai pemilik tanah namun tidak bisa sepenuhnya merasakan dan menikmati hasil tanahnya yang menjadi dasar Gerakan Mandau Talawang Panca Sila (GMTPS) untuk memperjuangkan provinsi Kalimantan Tengah yang kegigihan mareka kita nikmati dan rasakan hingga sekarang, namun bue Mandolin menghembuskan nafas terakhirnya jauh dari tanah yang ia perjuangkan, beliau menghembuskan nafas terakhirnya di pengasingan.
Menjaga Warisan Leluhur di Bumi Tambun Bungai
Warisan leluhur masyarakat Dayak adalah nilai-nilai harmoni, gotong royong, dan penghormatan terhadap bumi dan alam ciptaan Tuhan. Namun, kini warisan itu sedang diuji. Bumi dan hutan yang menjadi sumber kehidupan semakin hari semakin habis dikeruk oleh kepentingan ekonomi yang dikendalikan oleh oligarki dan korporasi besar.
Tanah yang dulu dijaga oleh leluhur dengan doa dan adat, kini banyak yang berubah menjadi lahan industri, meninggalkan luka ekologis dan sosial bagi masyarakat adat. Maka, menjaga warisan leluhur hari ini berarti memperjuangkan hak-hak masyarakat adat atas tanah, hutan, dan sumber daya alamnya.
Itulah bentuk nyata dari kepahlawanan di zaman ini, GMKI harus berdiri bersama rakyat kecil, menentang keserakahan, dan melindungi ciptaan Tuhan dari kehancuran.
Kader-kader GMKI di bumi Tambun Bungai harus menjadi suara profetik yang menegur dan mengintrupsi kekuasaan yang tidak adil, dan menjadi sahabat bagi masyarakat adat yang mempertahankan haknya atas bumi yang di cintai bersama-sama.
Menjaga warisan leluhur bukan nostalgia masa lalu, tetapi gerakan iman dan keadilan ekologis yang lahir dari kasih kepada Tuhan dan bumi ciptaan-Nya.
Kader GMKI sebagai Pahlawan Masa Kini
Sebagai bagian dari Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), kita meyakini bahwa kepahlawanan masa kini diwujudkan melalui pelayanan, keberanian moral, dan tanggung jawab sosial.
Kader GMKI harus menjadi pahlawan masa kini dengan:
– Bertindak nyata membela hak-hak rakyat dan masyarakat adat atas tanah dan lingkungan hidup.
– Bersikap kritis dan profetik terhadap kebijakan publik yang merusak keadilan dan kelestarian alam.
– Menjadi teladan integritas dan kejujuran di ruang sosial dan politik.
– Melanjutkan semangat dan Kedetedanan dari Dr. Johanes Leimena, Tjilik Riwut dan Christian Simbar dengan mengabdikan iman, ilmu, dan tindakan bagi kemanusiaan dan keadilan ekologis.
Peringatan Hari Pahlawan harus meneguhkan komitmen kita untuk menjadi pahlawan di masa kini, pahlawan yang memperjuangkan kebenaran, melayani sesama, dan menjaga bumi yang diwariskan oleh leluhur kita.
Sebagaimana tertulis dalam Ibrani 12:1:
“Marilah kita berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita, dengan mata yang tertuju kepada Yesus.”
Kiranya semangat kepahlawanan, iman Kristen, dan cinta terhadap tanah leluhur menjadi roh perjuangan kader GMKI di Kalimantan Tengah. Karena setiap langkah pelayanan, setiap suara bagi keadilan, dan setiap perjuangan menjaga bumi adalah wujud kasih, pertobatan ekologis dan kepahlawanan sejati. //
![]()
