SINTANG– Situasi ketersediaan dan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kalimantan Barat kini semakin memprihatinkan. Kelangkaan yang terjadi di berbagai titik, ditambah dengan lonjakan harga yang tidak wajar, telah menjadi beban berat bagi masyarakat, terutama di daerah pedalaman.

Tokoh pemuda Kalbar, Noven Honarius, menegaskan bahwa kondisi ini bukan sekadar masalah sementara, melainkan awal dari sebuah krisis yang perlahan namun pasti “membunuh” ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Harga Capai Rp 40.000 di Perhuluan

Bukti nyata kesulitan ini sangat terasa di daerah hulu, khususnya di wilayah Serawai-Ambalau. Di sana, harga BBM jenis Pertalite telah mencapai angka Rp 40.000 per liter. Angka ini jauh melampaui harga standar, sebuah realita pahit yang harus ditanggung warga yang tinggal jauh dari pusat distribusi.

“Saat ini dengan kondisi langka BBM Subsidi dan Non sibsudi dikecamatan Serawai-Ambalau harga BBM Melonjak tinggi melampaui HET bahkan dibeberapa desa sempat mencapai Rp. 40.000/liter BBM Jenis Pertalite sementara di Nanga Serawai sendiri rata-rata diangka Rp.20.000/liter” Ucapnya

Dampak Meluas ke Segala Sektor

Kondisi ini memberikan dampak domino yang sangat besar terhadap perekonomian masyarakat, terutama bagi mereka yang bergantung pada transportasi sungai. Sebagai moda transportasi utama di pedalaman, kapal dan perahu membutuhkan BBM dalam kapasitas besar. Jika harga bahan bakar melambung tinggi, biaya operasional pun ikut naik, dan secara otomatis harga kebutuhan pokok yang diangkut akan mengalami kenaikan.

Namun, dampaknya tidak berhenti pada sektor ekonomi saja. Noven menyoroti bahwa kondisi ini juga sangat berpengaruh terhadap bidang pendidikan dan kesehatan. Keterbatasan akses dan biaya yang mahal membuat mobilitas warga menjadi sulit, sehingga akses ke sekolah maupun fasilitas kesehatan menjadi semakin terbatas dan memberatkan.

“Kita tidak bisa membiarkan hal ini berlanjut. Kelangkaan dan harga yang melambung tinggi adalah bentuk ketidakadilan. Ini mematikan usaha, menyulitkan hidup, dan menghambat masa depan anak-anak serta akses pengobatan,” tegas Noven Honarius.

Ia berharap adanya perhatian serius dan langkah nyata dari pihak terkait untuk segera mencari solusi, agar beban masyarakat tidak semakin berat dan krisis ini tidak berlanjut lebih jauh. Nv//001

Loading