PALANGKA RAYA — Peringatan International Women’s Day setiap 8 Maret kembali menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan untuk memperoleh ruang yang aman, setara, dan bermartabat masih terus berlangsung.
Bagi Kerukunan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Dusun Maanyan dan Lawangan (KPPM DUSMALA) Kota Palangka Raya, momentum ini juga menjadi saat yang tepat untuk menyoroti kehidupan para mahasiswi perantauan yang datang ke kota demi menuntut ilmu dan membangun masa depan.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kampus dan kota, para mahasiswi yang merantau sering kali harus menghadapi berbagai tantangan. Jauh dari keluarga, mereka dituntut beradaptasi dengan lingkungan baru, ritme akademik yang padat, hingga dinamika sosial yang tidak selalu mudah.
Salah satu pengurus KPPM DUSMALA, Eko Julianto, mengatakan bahwa kehadiran komunitas yang saling peduli menjadi penting bagi mahasiswa perantauan, terutama bagi perempuan.
“Mahasiswi perantauan datang dengan mimpi besar. Mereka meninggalkan kampung halaman untuk belajar dan memperbaiki masa depan. Karena itu, lingkungan di sekitar mereka harus menjadi ruang yang aman, bukan justru menghadirkan rasa khawatir,” ucap Eko pria yang sering dipanggil driver muda itu (8/3/2026).
Di kalangan mahasiswa, Eko Julianto dikenal sebagai sosok yang terbuka dan kerap menjadi tempat berbagi cerita bagi teman-temannya, termasuk para perempuan yang membutuhkan ruang aman untuk didengar.
Menurut dia, menjaga keamanan dan kenyamanan perempuan tidak bisa hanya dibebankan kepada perempuan itu sendiri. Laki-laki juga memiliki tanggung jawab moral untuk menciptakan lingkungan sosial yang saling menghormati.
“Laki-laki harus menjadi bagian dari solusi. Menghormati perempuan, menjaga sikap, dan menolak segala bentuk kekerasan adalah hal sederhana, tetapi sangat penting,” ujarnya.
Bagi KPPM DUSMALA, peringatan Hari Perempuan Internasional tidak seharusnya berhenti pada seremoni atau pesan simbolik di media sosial. Lebih dari itu, momen ini perlu dimaknai sebagai ajakan untuk membangun solidaritas, kepedulian, dan sikap saling menjaga di tengah kehidupan mahasiswa yang semakin dinamis.
Organisasi ini juga mengajak para pemuda, pelajar, dan mahasiswa asal Dusun Maanyan dan Lawangan yang sedang menempuh pendidikan di Kota Palangka Raya untuk bergabung dalam KPPM DUSMALA.
Menurut Eko, organisasi ini tidak hanya menjadi wadah silaturahmi bagi mahasiswa perantauan, tetapi juga ruang untuk belajar, berdiskusi, serta membangun kepedulian terhadap berbagai persoalan sosial.
“Kami ingin KPPM DUSMALA menjadi rumah bersama bagi mahasiswa Dusun Maanyan dan Lawangan di Palangka Raya. Tempat untuk saling mendukung, saling menjaga, dan tumbuh bersama,” katanya.
Di tengah perubahan sosial yang cepat, Eko percaya bahwa komunitas yang hangat dan saling peduli akan membantu mahasiswa perantauan tetap teguh mengejar cita-citanya.
“Ketika perempuan merasa aman dan dihargai, maka ruang belajar dan ruang hidup juga menjadi lebih sehat bagi semua,” ujar dia.
Momentum Hari Perempuan Internasional, menurut KPPM DUSMALA, semestinya menjadi pengingat sederhana bahwa menghormati perempuan bukan sekadar sikap moral, tetapi bagian dari membangun masyarakat yang lebih manusiawi. Nv//001
![]()
